Tampilkan postingan dengan label info agribisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label info agribisnis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Juni 2011

MANAGEMEN USAHA PERIKANAN AIR TAWAR

Dalam usaha dibidang Budidaya ikan Air tawar terkadang banyak mengalami berbagai kendala, walaupun dalam istilah teori itu sebenarnya mudah.
sering kali kita mendengar keluhan dari masyarakat petani kita yang menyampaikan persoalannya, kenapa ikan lambat besar, kenapa napsu makan berkurang, dan kenapa seringkali terjadi kematian pada usaha budidaya ikan.
pada dasarnya ikan lambat besar itu karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya seperti:

- ikan tidak diberikan makanan tambahan yg cukup
- ikan lambat besar, walaupun dikasih makan kadang napsu makan ikan itu sendiri berkurang, karena faktor keasaman air itu sendiri sehingga malas bagi ikan utk makan, dan akhrnya lambat besar, itu semua harus diatasi dengan proses pengapuran, pengapuran dimaksudkan untuk menatralisirkan keasaman PH dan kita naikkan melalui proses pengapuran tersebut, sehingga dg ph yg cukup dan tidak asam maka selera makan ikan bertambah, tinggal kita sebagai pelaku usaha yg harus tekun utk memberikan makanan tambahan sebagai langkah terbaik yg merupakan cara untuk membesarkan ikan.
- Ada juga persoalan lainnya yg mengakibatkan ikan lambat besar, bahkan tidak mau besar pertumbuhannya, itu sudah pasti disebabkan karena faktor bibit itu sendiri, artinya bahwa bibit yang diperoleh itu berasal dari induk ikan yg tidak bagus .
induk ikan yg terlalu tua usianya, memang menghasilkan benih yg cukup banyak, akan tetapi untuk anak ikan sebagi benih atau bibit akan lambat dan tidak mau besar. oleh karena itu dalam memilih bibit ikan sebaiknya kita harus tahu, kemana kita akan membeli bibit yg bagus, dan apakah penjual bibit itu benar-benar bisa dipercaya atau sebaliknya. karena dengan pembelian bibit ikan yg kita tidak tahui asal-usulnya induk itu sendiri kita akan tertipu. dan dalam agrobisnis kalu kita membeli induk ikan harus induk yg benar-benar melalui proses seleksi yg bagus dan memenuhi kriteria sebagaimana mestinya.
salam ................


Sabtu, 12 Maret 2011

ikan sidat

Ikan Sidat Komoditas Potensial 
Ikan sidat ditemukan di perairan laut, payau dan air tawar dengan penyebaran di dunia 18 spesies, 12 spesies di antaranya tersebar di perairan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia yang dianggap sebagai daerah asal-usul (home land) dari jenis Anguilidae (ikan sidat dunia).
Ikan sidat mempunyai siklus hidup reproduksi yang unik dan rumit, di mana ikan sidat dewasa yang telah matang gonad akan bermigrasi ke laut dan berpijah di kedalaman laut lebih dari 300 m. Setelah telur menetas, larva sidat (leptocephalus) yang berbentuk seperti pita transparan, akan terbawa oleh arus laut dan kembali ke perairan pantai. Sebelum memasuki perairan pantai, larva akan bermetamorfosa menjadi glass eel. Hingga berumur sekitar 5-7 bulan, glass eel akan terbawa oleh air pasang surut, memasuki perairan estuari, sungai dan berkembang menjadi elver. Sekitar 1-3 tahun, elver akan tumbuh dan berkembang menjadi sidat dewasa, di mana setelah matang gonad, akan kembali ke laut untuk berpijah. Semua sidat berpijah hanya sekali dan kemudian mati. Durasi hidup ikan sidat cukup panjang bisa mencapai 10-20 tahun, namun ini tergantung dari jenis dan lokasi.

Benih Sidat Tatelu
Ikan sidat telah mulai dibudidayakan di negara-negara maju seiring dengan peningkatan permintaannya dari waktu ke waktu. Sebut saja Jepang dan Eropa yang mulai merintis usaha tersebut. Bahkan di China, budidaya ikan bernama latin Angguila sp.ini telah berlangsung lebih dari dua dasawarsa terakhir. Kendati demikian, upaya itu belum bisa memenuhi semua permintaan sidat.
Peluang inilah yang kini tengah diupayakan Indonesia, menjadi pemasok sidat di dunia. Ini bukan tanpa dasar karena potensi pengembangan budidaya sidat di tanah air sangat besar. Bayangkan saja, selain didukung dengan potensi lahan juga terdapat dua spesies sidat dengan ketersediaan benih alam yang melimpah. Kedua spesies tersebut adalah Agguilla bicolor dan Angguilla marmorata. Jenis pertama mempunyai karakteristik pertumbuhan lebih cepat dan berwarna putih kehitaman. Sedangkan Angguilla marmorata pertumbuhannya lambat tetapi berukuran besar dan disukai konsumen di China.



Namun, pengembangan sidat di bumi pertiwi terkendala penyediaan benih (fingerling) yang sudah siap tebar dalam jumlah besar. Sebab usaha tersebut memerlukan penanganan mulai dari adaptasi terhadap air tawar, pakan buatan dan pertumbuhan untuk mencapai stadia sidat muda atau fingerling. Kendala lain adalah prasarana budidaya, yaitu penyediaan sarana kolam yang harus menggunakan konstruksi permanen untuk mencegah sidat lolos dari kolam. Disamping itu juga membutuhkan sarana air mengalir dan aerator untuk menjaga agar kandungan oksigen bisa memenuhi syarat hidup dan pertumbuhan sidat.

Faktanya, sampai saat ini produksi benih sidat secara artifisial belum bisa dilakukan karena proses reproduksi ikan ini tergolong rumit dan unik. Ikan sidat yang berukuran besar di air tawar tidak bisa mengalami proses pematangan gonad atau produksi telur bila tidak bermigrasi ke laut. Secara alamiah, pemijahan sidat berlangsung di perairan laut dalam yang masih misterius hingga saatP ini. Sementara benih-benih (stadium glass eel) bermigrasi ke perairan tawar melalui muara-muara sungai pada saat bulan gelap.

Beberapa wilayah menunjukkan adanya migrasi benih tersebut. Misalnya Sulawesi Utara. Yaitu di Amorang Kab. Minahasa Selatan, Poigar di Kab. Bolmong dan Inobonto di Kab. Bolmong. Keberadaan benih-benih itu bisa dimanfaatkan sebagai sumber benih alam.

Untuk benih alam yang berukuran sangat kecil umumnya baru mencapai stadium glass eel maupun elver. Tahapan ini membutuhkan perkembangan lebih lanjut untuk mencapai stadium sidat muda. Sedangkan benih yang besar di perairan alami tidak banyak yang bisa hidup (survive) akibat ancaman pemangsa, perubahan kondisi perairan yang kian tercemar dan banyaknya kegiatan konstruksi di perairan yang mengurangi peluang keberlangsungan hidup benih.

Karena itu upaya yang dibutuhkan untuk menyelamatkan benih-benih tersebut adalah melakukan perawatan (nursery) secara khusus sehingga keberlangsungan hidupnya menjadi besar. Caranya antara lain melalui upaya penangkapan benih pada bulan gelap di muara sungai. Hal itu memungkinkan penyediaan benih dalam jumlah besar meski masih memerlukan upaya penanganan hingga mencapai stadium dan ukuran yang siap dibesarkan di kolam budidaya secara efisien. Sebagai kunci keberhasilan awal pengembangan budidaya sidat adalah kemampuan menyediakan benih siap tebar. Untuk itu harus bisa menjamin tingkat keberlangsungan hidup yang tinggi dari hasil pengumpulan benih alam yang berukuran sangat kecil.

Tahapan-tahapannya sebagai berikut. Pertama adaptasi untuk mendapatkan glass eel yang bisa hidup di air tawar dan responsif terhadap pakan formula. Kemudian penyesuaian air media dengan penurunan kualitas secara bertahap dan adaptasi pakan hidup (cacing diubah menjadi pakan buatan). Ke dua, penumbuhan elver agar menjadi sidat muda elver yang adaptif. Untuk itu dibutuhkan 3 hal yaitu manajemen kualitas air yang memungkinkan kondisi air cepat bersih dan kaya oksigen, memacu asupan pakan melalui penyediaan pakan dengan aktabilitas tinggi dan gizi berimbang serta ke tiga dengan grading ukuran (sortasi) antara individu yang berukuran besar dan kecil. Benih yang siap tebar di kolam harus memenuhi syarat. Yakni ukuran mencapai lebih dari 5 gr/ekor) serta memiliki rasio lebar badan dan berat panjang tidak kurang dari 1,4 cm x 9 gr x 17 cm.


Sidat Jadi Primadona



Ikan sidat (Anguilla sp) mungkin tidak di kenal banyak orang di sini. Tapi, dia berbagai negara ikan sidat njadi makanan primadona yang harganya sangat mahal. Sidat adalah sejenis belut, namun bentuknya lebih panjang dan besar. Ada yang mencapai 50 cm. Memang tidak enak dilihat. Tapi siapa sangka, konsumen asing aggap cita rasa ikan sidat enak dan memiliki kandungan gizi yang tinggi. Kalau di restoran Jepang, ikan ini sebutannya Unagi, dengan harga sangat mahal. Dan sidat inilah menjadi salah satu primadona yang terus dikembangkan dan diteliti di BLUPPB Karawang.

Guna melihat secara langsung komoditi ini, belum lama ini Pusat Data Statistik, dan Informasi (Pusdatin) menyelenggarakan Kunjungan Pers Komuditas Wartawan Kelautan dan Perikanan (Komunikan) ke balai ini. Dihadapan 30 wartawan ibukota, IMade Suitha, Kepala BLUPPB Karawang menjelaskan budidaya ikan sidat di Indonesia baru dimulai sekitar tahun 2007 oleh Satuan Kerja Tambak Pandu Karawang.

“Melihat permintaan pasar dunia yang sangat besar mendorong kami untuk melakukan penelitian budi daya ikan sidat diBLUPPB Karawang,”jelasnya.
Sekarang, pengenbangan budidaya ikan sidat di Pandu Karawang sangat berhasil. Kendati Jepang dan Thailand cukuip lama membudidayakan, kedua negara menggunakan benih dari Indonesia.

BLUPPB Karawang, menurutnya, siap memberikan batuan dalam bentuk teknologi budidaya bagi masyarakat yang ingin berwirausaha. Saat ini, beberapa kelompok masyarakat dan perorangan telah melakukan pembudidayaan ikan sidat di tambak Pandu Karawang,

“Kami menyediakan lahan yang bisa disewa maksimal dua tahun. Setelah itu mereka harus mandiri, untuk memberi kesempatan pada masyarakat lain yang ingin belajar budi daya ikan sidat,” jelasnya.

Sidat kini menjadi salah satu peluang bisnis yang sangat besar. Ekspor ikan sidat teutama ke Mancau, Taiwan, Jepang, China dan Hongkong, Potensi pasar negara lain yang belum digarap antara lain Singapura, Jerman, Italia, Belanda dan Amerika Serikat.

Harga ikan sidat memang sangat menggiurkan, di tingkat petani ikan sidat utuk elver dijual mencapai Rp 250 ribu per kg. Untuk ukuran 10-20 gram berkisar antara Rp. 20 ribu sampai Rp. 40 ribu per kg,sedangkan ukuran konsumsi lebih dari 500 gram untuk jenid Anguilla bicolor pada pasar lokal rata-rata Rp. 75.000/kg, jenis Anguilla marmorata Rp. 125 ribu Rp. 175 ribu per kg.

Sidat juga banyak keunggulan, diantaranya terdapat kandungan vitamin A, kandungan EPA rata-rata lebih tinggi DHA ikan sidat 1.337 mg/100 gram mengalahkan ikan salmon yang hanya tercatat 820 mg/100 gram atautenggiri 748 mg/100 gram.

Sumber :
Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia
Informasi Pasar Dunia

Sabtu, 05 Maret 2011

INFO BUDIDAYA


NILA GIFT
TEKNIK PEMBENIHAN SECARA MASSAL
DAN PEMBESARAN DI TAMBAK

PENDAHULUAN

    Nila Gift dikembangkan ICLARM ( International Center for Living Aquatic Research Management) di Filipina sejak 1987 melalui Genetic Improvement of Farmed Tilapia Project (GIFT), hasil persilangan dan seleksi antara ikan nila dari negara Taiwan, Mesir, Thailand, Ghana, Singapura, Israel, Senegal dan Kenya. Didatangkan ke Indonesia tahun 1994 berupa Generasi ke-4 dan tahun 1997 Generasi ke-6 melalui Balai Penelitian Perikanan Air Tawar, sebagai salah satu anggota INGA (International Network for Genetic in Aquaculture).



Ikan Nila (Oreochromis niloticus) ditetapkan oleh Bank Dunia sebagai ikan Abad 20, khususnya dalam program pengentasan kemiskinan dan pemenuhan gizi masyarakat. Secara genetika dibandingkan dengan jenis ikan nila lainnya, telah terbukti memiliki keunggulan pertumbuhan dan produktivitas yang lebih tinggi. Selain itu ikan nila termasuk omnivora, sehingga dalam budi dayanya akan sangat efesien, dan biaya pakannya rendah. Ikan nila yang dibudidayakan di tambak atau keramba jaring apung adalah 0,5 - 1,0.
  
    Pertumbuhan ikan nila jantan dan betina dalam satu populasi akan selalu jauh berbeda, nila jantan 40% lebih cepat daripada nila betina. Disamping itu nila betina jika sudah mencapai 200 g pertumbuhannya akan lamban. Untuk mengantisipasi kendala tersebut, saat ini sudah bisa dilakukan proses jantanisasi atau membuat populasi ikan manjadi jantan semua (sex reversal) dengan cara pemberian hormon 17a methyltestosteron selama perkembangan larva sampai umur 17 hari.

    Pembenihan ikan nila dapat dilakukan secara massal di perkolaman dan secara terkontrol (pasangan) dalam bak-bak beton. Sedangkan pembesaran dapat dilakukan dikolam, keramba jaring apung atau di tambak. Budi daya nila secara monokultur di kolam rata-rata produksinya adalah 25.000 kg/ha/panen, di keramba jaring apung 1.000 kg/unit (50m2)/panen (200.000kg/ha/panen), dan di tambak sebanyak 15.000 kg/ha/panen. Ikan nila yang di Budi dayakan di tambak, pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan di kolam atau di jaring apung.

Pembenihan Nila

   Lahan atau kolam untuk pembenihan nila dibagi dalam dua kelompok yaitu kolam pemijahan dan kolam pendederan. Sebaiknya kolam-kolam di buat dengan pematang yang tingginya min 30 cm dari permukaan air, sumber pemasukan air yang terjamin kelancarannya, bebas dari pohon-pohon yang tinggi dan rindang, dan luas kolam masing-masing 200m2.

   Induk ikan nila mempunyai bobot rata-rata 300 g/ekor. Perbandingan betina dan jantan untuk pemijahan adalah 3 : 1 dengan padat tebar 3 ekor/m2. Pemberian makan berbentuk pelet sebanyak 2% dari bobot biomassa/hari dan diberikan tiga kali dalam sehari. Sebaiknya untuk induk ikan didatangkan dari instansi resmi antara lain Balai Penelitian Perikanan Air Tawar Sukamandi, sehingga kualitas kemurnian dan keunggulannya terjamin.

   Induk nila betina dapat matang telur setiap 45 hari. Pada tahap awal akan menghasilkan larva sekitar 300g (250 - 300 ekor larva) dan jumlah ini akan meningkat sampai mencapai 900 ekor larva.
Setelah selesai masa pemijahan dalam satu siklus (45 hari), induk betina diistirahatkan dan dipisahkan dari induk jantan selama 3 - 4 minggu dan diberi pakan dengan kandungan protein di atas 35%.

   Setelah dua minggu masa pemeliharaan adaptasi di kolam biasanya induk-induk betina mulai ada yang beranak menghasilkan larva. Larva tersebut dikumpulkan dan selanjutnya ditampung dalam hapa ukuran 2 x 0,9 x 0,9 m3. Pengumpulan larva dilakukan beberapa kali dari pagi hingga sore, dan diusahakan larva yang terkumpul satu hari ditampung minimal dalam satu hapa.


Jantanisasi Benih

   Untuk mendapatkan benih ikan nila tunggal kelamin jantan (monosex) maka dilakukan proses jantanisasi. Dalam hal ini diperlukan minimal 24 buah hapa dengan ukuran masing-masing 2 x 2 x 2 m3 yang ditempatkan dalam kolam dengan luas kurang dari 400 m2 dan kedalaman air minimal 1,5 m2.
Dalam setiap hapa di isi larva sebanyak 20.000 - 30.000 ekor dan diberi pakan berbentuk tepung yang dicampur dengan hormon 17a methyl testosteron sampai masa pemeliharaan selama 17 hari (Lampiran 1).

   Larva hasil proses jantanisasi selanjutnya dipelihara dalam kolam pendederan berukuran 200 m2. Kolam sebelumnya harus dikeringkan, lumpurnya dikeduk, dan diberi kapur sebanyak 50 g/m2, dan diberi pupuk kotoran ayam sebanyak 250 g/m2. Setelah pengapuran dan pemupukan, kolam diisi air secara perlahan-lahan sampai ketinggian air sekitar 70 cm, digenangi selama 3 hari, diberi pupuk urea dan TSP masing-masing sebanyak 2,5 g/m2 dan 1,25g/m2.
Setelah kolam pendederan terisi air selama 7 hari, benih ikan hasil proses jantanisasi dimasukkan dengan kepadatan 250 ekor/m2. Pemberian pakan tambahan dapat dilakukan dengan pakan berbentuk tepung yang khusus untuk benih ikan. Pemupukan ulang dengan urea dan TSP dilakukan seminggu sekali dengan takaran masing-masing 2,5 g/m2 dan 1,25g/m2 kolam dan diberikan selama pemeliharaan ikan.

   Setelah masa pemeliharaan 21 hari, ikan dengan bobot rata-rata 1,25 g (ukuran panjang 3 - 5 cm) bisa dipanen dengan menggunakan jaring erat. Sebaiknya jika ikan akan dipanen dan diangkut sebaiknya dalam keadaan perut kosong (min. 1 hari tidak diberi pakan) dan suhu air relatif dingin.
Pengangkutan menggunakan kantong plastik, dimana 1/4 bagian bagian berisi air dan 3/4 berisi oksigen murni yang diberi es balok ukuran 20 x 20 x 20 m3 (es balok berada dalam  media air bersama benih ikan). Kantong plastik dengan volume 20 L bisa diisi ikan ukuran 3 - 5 cm maksimal 1.500 ekor/kantong, dengan masa toleransi dalam kantong sekitar 10 jam.